17/01/2018
Kamis, 16 Mei 2013 | 11:51
kuliner - antara

Delapan Mahasiswa Asing UKP Masak Nasi Goreng

Delapan Mahasiswa Asing UKP Masak Nasi Goreng
Mahasiswa Asing UKP/Antara

OTDANEWS.COM, Surabaya - Sebanyak delapan mahasiswa asing dari Slovakia, Brazil, Rumania, dan Thailand, yang selama ini kuliah di Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya berlaga memasak nasi goreng khas Jawa dengan "anglo" (tungku terbuat dari tanah).

"Itu kegiatan mahasiswa asing untuk belajar mengenal budaya Indonesia melalui kuliner, karena mereka akan menjadi duta Indonesia di negaranya," kata Kepala Bagian Kerja Sama Luar Negeri dari Biro Administrasi Kerja Sama dan Pengembangan Institusional (BAKP) UKP Renny Novemsy Dese di kampus setempat, Kamis.

Dalam kegiatan di Warung Pecel Murni, Jalan Ahmad Yani, Surabaya itu, para mahasiswa asing tampak antusias memasak nasi goreng dengan bahan-bahan dan peralatan yang telah disediakan sebelumnya, namun mereka sebelumnya menyaksikan demo memasak yang diperagakan oleh Dhima, pemilik Warung Pecel Murni.

Dhima memperkenalkan bumbu-bumbu dapur dasar yang digunakan dalam memasak nasi goreng kepada mereka.

"Resep itu merupakan resep keluarga andalan warung kami. Anglo sengaja dipilih karena memasak dengan anglo bisa mengurangi penggunaan minyak, karena mengunakan bahan bakar arang, namun tetap memberikan cita rasa yang tak kalah nikmat," kata Dhima.

Namun, anglo yang tersedia hanya satu buah, maka siapa cepat dalam meracik bumbu yang akan menggoreng nasi terlebih dahulu.

Setelah semuanya siap saji, mahasiswa-mahasiswa itu mencicipi hasil masakannya dan saling bertukar masakan.

Sementara itu, Perpustakaan UKP Surabaya memamerkan Alat Peraga Edukatif (APE) berbahan daur ulang atau bahan bekas yang merupakan hasil karya para pendidik PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), TK (Taman Kanak-kanak), dan TBM (Taman Bacaan Masyarakat) di sekitar Siwalankerto dan Kutisari.

"APE yang dipamerkan sejak 13 Mei hingga 31 Mei itu merupakan salah satu media pendukung proses pembelajaran yang sebenarnya telah dijual bebas di pasaran, namun keterbatasan dana dari pihak penyelenggara pendidikan dan tingginya harga APE menyebabkan proses belajar mengajar, khususnya penyampaian materi kepada peserta didik menjadi sedikit terhambat," kata dosen program studi desain komunikasi visual (DKV) UKP, Niendy.

Namun, keterbatasan itu justru menjadi peluang memajukan kreativitas pendidik. "Dengan menggunakan bahan yang murah dan mudah diperoleh, pendidik dapat merancang suatu APE yang sesuai dengan kebutuhan," katanya.

Bahkan, barang-barang bekas dapat menjadi bahan dasar media, seperti bekas kemasan makanan, kardus, kertas bungkus, dan sebagainya, lalu dibentuk sesuai dengan kebutuhan, seperti angka, binatang, rumah, panca indera, boneka tangan, dan tumbuhan.

Dibaca : 964 kali